Selasa, 07 Februari 2012

belajar

 1. Belajar  
Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar. Apa yang terjadi pada diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat dietahui secara langsung hanya dengan mengamati orang itu. Bahkan, hasil belajar orang itu tidak langsung kelihatan, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang menampakkan kemampuan yang diperoleh melalui belajar. Maka, berdasarkan perilaku yang disaksikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang telah belajar. Misalnya, sikap menghormati sang merah putih pada waktu upacara bendera, menyatakan diri dalam mengambil posisi tubuh tegak lurus, sambil mengarahkan pandangan pada bendera yang sedang dikibarkan.

Dari perilaku ini, yang diamati orang lain, diketahui atau disimpulkan bahwa orang itu telah belajar suatu sikap. Sikap itu adalah kemampuan internal yang bersifat mental/psikis. Karena itu, tidak mungkin mengetahui secara pasti apakah kemampuan internal itu ada, kecuali orang itu bertindak atau berbicara. Misalnya pula, seseorang sebenarnya pandai dan terampil sekali main organ. Kepandaian itu berupa kemampuan internal yang bersifat konitif, keterampilan dan  kecekatan itu berupa kemampuan internal pula, tapi tergolong bidang belajar keterampilan motorik. Dengan berbicara saja dengan orang itu, orang tidak dapat mengetahui bahwa kenalannya mampu main organ, bahkan pengakuan “saya dapat main organ” belumlah memberikan bukti yang pasti. Barulah, setelah orang itu mulai main disebuah organ, kemampuannya diperoleh secara pasti dan ditarik kesimpulan, bahwa orang itu mesti pernah belajar dan sekarang mempunyai kemampuan itu.
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa hasil belajar tidak jatuh sama dengan prestasi, didalam prestasi hasil belajar menampakkan diri. Selama potensi atau kemampua internal tidak diwujdkan dalam suatu bentuk perilaku, sulitlah diperoleh kepastian tentang apa yang telah dipelajari.
    Belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan, dalam bergul dengan teman, dalam memegang benda dan dalam menghadapi peristiwa manusia belajar. Namun, tidak sembarang berada di tengah-tengah lingkungan, menjamin adanya proses belajar. Orangnya harus aktif sendiri, melibatkan diri dengan segala pemikiran, kemauan dan perasaan, misalnya, setiap guru mengetahui dari pengalaman bahwa kehadiran siswa dalam kelas, belum berarti siswa sedang belajar selam siswa tidak melibatkan diri, dia tidak akan belajar. Maka, supaya terjadi belajar, dituntuk orang melibatkan diri, harus ada interaksi aktif. Aktivitas boleh berupa aktivutas mental saja, yang tidak disertai gerak-gerik jasmani, boleh juga terjadi aktivitas jasmani yang didalamnya mental seseorang terlibat.
    Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa belajar pada manusia boleh dirumuskan sebagai berikut: “suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keteranpilan dan sikap-sikap”.

. Jenis-jenis belajar
a)    Bentuk belajar menurut fungsi psikis
1.    Belajar dinamik/konatif
Ciri khas belajar ini terletak pada belajar berkehendak sesuatu secara wajar, sehingga orang tidak menyerah pada sembarang menghendaki dan juga tidak menghendaki sembarang hal. Berkehendak adalah suatu aktivitas psikis, yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari dan dihayati. Kebutuhan itu dapat merupakan kebutuhan biologis, seperti kebutuhan akan mengistirahatkan tubuh atau mendapatkan bahan makanan. Kebutuhan itu dapat juga merupakan kebutuhan psikologis, seperti kebutuhan akan pengatahuan dan lingkungan hidup yang aman.
2.    Belajar afektif
Salah satu ciri belajar ialah belajar menghayati nilai dari suatu obyek yang dihadapi melalui alam perasaan, entah obyek itu berupa orang, benda atau kejadian/peristiwa, cirri yang lain terletak dalam belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekpresi yang wajar.
3.    Belajar kognitif
Ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan suatu bentuk representasi yang mewakili suatu obyek yang dihadapi, entah obyek itu  orang, benda maupun kejadian/peristiwa. Segala yang direpresentasikan atau dihadirkan dalamdiri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambing, yang semuanya merupakan sesuatu yang yang bersifat mental. Misalnya, seseorang yang menceritakan pegalamannya selama mengadakan perjalanan ke luar negeri, setelah kembali ke negeri sendiri.
    Pebahasan tentang pembelajaran kognitif disini, akan dibatasi pada dua aktifitas kognitif yaitu mengingat dan berfikir.
a. mengingat adalah suatu aktifitas kognitif, di mana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau.
b. dalam aktifias berfikir yang jelas, bahwa manusia berhadapan dengan obyek-obyek yang diwakili dalam kesadaran.
4.    Belajar senso-motorik
Ciri khasnya terletak dalam  menghahadapi dan menangani aneka obyek secara fisik, termasuk kejasmanian manusia sendiri. Misalnya, menggerakkan anggota badan sambil naik tangga atau berenang, memegang alat sambil menulis atau melukis, memindahkan jari-jari tangan dan memberi tekanan pada tombol-tombol mesin apabila mengetik.

b)    Bentuk belajar menurut materi yang dipelajari.
1. belajar teoretis
Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan suatu problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah.
2. belajar tektis
Bentuk ini bertujuan mengembangkan keterampilan –keterampilan yang dalam menangani dalam mengatasi dan memegang benda-benda serta menyusun bagian-bagian materi menjadi suatu keseluruan, misalnya belajar mengetik dan membuat suatu mesin tik.



3. belajar bermasyarakat
Bentuk belajar ini bertujuan mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama, dan memberikan kelonggaran kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Belajar ini mengcakup fakta, seperti didirikannya badan perserikatan bangsa untuk mengatur kehidupan bangsa pada taraf internasional.
4. belajar estetis
Bentuk belajar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan di berbagai bidang kesenian. Belajar ini mencakup fakta, seperti nama Mozart sebagai pengubah musik klasik, konsep-konsep, seperti ridme, tema dan komposisi, relasi-relasi, seperti hubungan antara bentuk dan isi.
Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Jadi lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
1.      Faktor-faktor Penyebab Lupa
a.       Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Gangguan konflik ini terbagi menjadi dua yaitu:
•        Gangguan proaktif (Proactive interference) yaitu apabila materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Ini terjadi jika siswa mempelajari materi yang mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. (Psychology Education, 2002)
•        Ganguan retroaktif (retroactive interference) yaitu apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa. Jadi materi pelajaran lama akan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali, sehingga siswa tersebut lupa. (Psychology Education, 2002)
b.      Lupa dapat terjadi pada seseorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini dapat terjadi karena item informasi yang berupa pengetahuan tanggapan atau kesan dan sebagainya yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya sehingga ke alam ketidaksadaran.
c.       Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Andreson 1990). Jika siswa belajar hanya dengan mengenal melalui keterangan atau gambar saja, maka jika siswa menemui yang telah dipelajarinya, mereka akan lupa.
d.      Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu. Jadi, jika siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan serius, karena hanya tidak suka dengan gurunya maka materi pelajarannya akan terlupakan.
e.       Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa (Hilgard & Bower 1975)
f.        Lupa tentu saja dapat tejadi karena perubahan urat syaraf otak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar