Selasa, 07 Februari 2012

berhias

        1.  Berhias yang Dianjurkan
·      Bersiwak, mempunyai manfaat yang besar, yaitu menjaga kebersihan mulut
·      Istinsyak, yakni memasukkan air ke dalam hidung untuk membersihkannya
·      Memotong kuku
·      Mencuci ruas-ruas jari tangan dan kaki
·      Mencabuti dan mencukur rambut ketiak
·      Mencukur rambut di bawah perut
·      Mencuci pakaian yang kotor
·      Bersisir atau merapikan rambut
·      Bercelak
·      Mencuci bekas darah haid dan nifas dengan air dicampuri minyak wangi
·      Mandi dan bersabun
2.   Berhias yang Diperbolehkan
·      Mengenakan sutera, emas, mutiara dan berbagai jenis batu permata
·      Pewarna untuk memerahkan pipi dan memutihkan wajah.
3.   Berhias yang Dilarang
·      Memotong rambut dan beberapa pendapat ulama yang melarang untuk memendekkan rambut
·      Menyambung rambut
·      Bertatto
·      Mencabuti bulu wajah seperti alis
·      Mengikir gigi
·      Operasi kecantikan yang merubah ciptaan Allah SWT
Diadaptasi dari tulisan yangberjudul “Berhias”


Ia menjadi indah
Oleh pengorbanan menjemputnya di samudra
juga oleh waktu yang membentuknya
Seperti dirimu yang indah
Oleh pengorbanan yang kau buktikan pada sesame
Sungguh engkau indah karena aku adalah mutiara.
1.     Menahan pandangan dari kedua pihak (melihat aurat dan memandang dengan syahwat). Firman Allah Taala: “Katakanlah kepada orang lelaki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakan kepada wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 30- 31)
2.      Pihak wanita harus memakai pakaian yang sopan seperti yang dituntut syara’. Allah berfirman: “..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya..” (An- Nur: 31)
3.     Mematuhi adab dalam segala hal seperti dalam percakapan hindari dari perkataan yang meransang. Allah berfirman: “..Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al- Ahzab: 32)
4.     Jauhkan diri dari bau- bauan yang harum dan perhiasan- perhiasan.
5.     Jangan berdua - duaan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram. Dalam hadis sahih mengatakan, ‘kerana yang ketiga itu syaitan. Dan pertemuan itu hanya untuk keperluan yang dikehendaki saja.
Diadaptasi dari tulisan yang berjudul “ Batasan dalam Islam”
Wajah mereka sederhana
Penampilan mereka bersahaja
Pun sikap mereka apa adanya
Tapi ada yang bercahaya di sana
Tapi ada yang memancar daripadanya
Tapi ada yang melegakan di dalamnya
orang-orang sederhana
Pada mereka aku belajar mengeja hidup
Diadaptasi dari puisi yang berjudul “Belajar dari Orang-orang Sederhana”.

1. Bergaul dengan Teman Sesama Muslim
a.  Mencintai muslim lain sebagaimana mencintai dirinya    sendiri.
”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)
b. Menyukai apa yang disukai muslim lain sebagaimana dirinya menyukai apa yang dia sukai, dan membenci apa yang dibenci muslim lain sebagaimana dirinya membenci apa yang dia benci.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)
c.   Tidak menyakiti muslim lain dengan perbuatan atau perkataan.
”Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
d.   Bersikap tawadhu kepada setiap muslim dan tidak sombong kepadanya.
”Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku hendaklah kamu tawadhu sehingga tidak ada orang yang membanggakan diri kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Maajah)
e.   Tidak menyampaikan berita atau gunjingan kepada sebagian yang lain tentang apa yang didengarnya dari sebagian yang lain.
”Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari-Muslim)
f.   Kalau marah, maka tidak boleh mengindarinya lebih dari tiga hari.
”Tidak boleh seorang muslim menghindari saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya saling bertemu lalu saling berpaling. Sebaik-baik orang di antara keduanya adalah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari-Muslim)
g.   Melakukan kebaikan kepada setiap muslim semampunya dengan tidak membedakan antara keluarga dan yang bukan keluarga.
”Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya ke wajah teman bicaranya lalu Rasulullah saw tidak akan berpaling dari wajah seseorang sebelum ia selesai berbicara.” (HR. ath-Thabrani)
h.   Tidak masuk ke rumah muslim lain tanpa meminta izin, jika sampai tiga kali tidak diizinkan maka harus kembali.
”Meminta izin itu tiga kali. Yang pertama untuk menarik perhatian tuan rumah, kedua memperbaiki, dan ketiga agar memberi izin atau menolak.” (HR. Bukhari-Muslim)
i.    Bersikap sopan kepada setiap muslim dengan akhlaq yang baik dan berinteraksi dengan mereka sesuai dengan keadaannya.
”Hindarilah api neraka sekalipun dengan separoh korma. Lalu siapa yang tidak memilikinya, maka dengan perkataan yang baik.” (HR. Bukhari-Muslim)
j.    Menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
”Tidak termasuk dalam golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)
k.   Selalu memberikan kegembiraan, bermuka manis, dan bersikap lembut kepada semua muslim.
”Tahukah kamu kepada siapa api neraka diharamkan?” Para sahabat menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Kepada orang yang lemah lembut, yang selalu memudahkan, dan selalu dekat (akrab)” (HR. Tirmidzi)
l.    Janganlah berjanji kecuali bermaksud menepatinya.
”Tiga hal ada pada diri orang munafik, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)
m.  Bersikap adil dan tidak melakukan sesuatu kepada muslim lain kecuali apa yang ia sukai untuk diperlakukan kepada dirinya.
”Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan masuk surga maka hendaklah ia mati dalam keadaan bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah ia memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang disukainya jika dilakukan pada dirinya.” (HR. Muslim)
n.   Menghormati muslim lain yang penampilan dan pakaiannya menunjukkan kedudukannya sehingga dirinya bisa menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.
”Apabila orang dimuliakan suatu kaum datang kepada kamu, maka muliakanlah ia.” (HR. al-Hakim)
o.   Mendamaikan sesama muslim yang bersengketa jika menemukan jalan (penyelesaian) ke arah itu.
”Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kamu karena sesungguhnya Allah akan memperbaiki hubungan di antara orang-orang beriman di hari kiamat.” (HR. al-Hakim)
p.   Menutupi aib setiap muslim.
”Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
q.   Menghindari tempat-tempat yang bisa mendatangkan tuduhan demi untuk menjaga hati orang lain agar tidak berburuk sangka dan juga untuk menjaga lidah mereka agar tidak menggunjing.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya Rasulullah saw berbicara dengan salah seorang istrinya kemudian ada laki-laki lewat lalu dipanggil oleh Nabi saw seraya berkata, ”Ya Fulan, ini adalah istriku Shafiyyah.”
r.   Memintakan bantuan bagi setiap muslim yang membutuhkan pada orang yang memiliki kedudukan dan berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya itu sesuai kemampuannya.
”Sesungguhnya aku diberi dan diminta. Sering dimintakan kepadaku kebutuhan-kebutuhan sedangkan kamu ada di sisiku, maka ikutlah memberi bantuan agar kamu diberi pahala dan Allah swt memutuskan apa yang dicintai-Nya melalui kedua tangan Nabi-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim)
s.   Mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum berkata kepada muslim lain dan menjabat tangan ketika memberi salam itu.
”Jika salah seorang di antara kamu bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah, ’Assalamu’alaikum warahmatullah.’” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)
”Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan melainkan keduanya akan diampunkan (dosanya) sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
t.   Menjaga kehormatan jiwa dan harta saudaranya sesama muslim dari kezhaliman orang lain apabila dirinya mampu membela dan menolong serta mampu memperjuangkannya sebab itu merupakan kewajiban baginya.
”Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka ia akan terlindung dari api neraka.” (HR. Tirmidzi)
u.   Menjawab ucapan muslim lain yang bersin.
”Seorang muslim yang bersin dijawab jika ia bersin tiga kali dan jika (lebih dari tiga kali) maka itu adalah penyakit flu.” (HR. Abu Dawud)
v.   Memberi nasihat kepada setiap muslim dan bersungguh-sungguh ingin selalu memberikan kegembiraan ke dalam hati setiap muslim itu.
”Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat sesuatu (pada saudaranya) maka hendaklah ia membersihkannya.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)
w.   Menjenguk muslim yang sakit.
”Siapa yang menjenguk orang sakit berarti ia duduk di taman-taman surga, sampai-sampai jika ia hendak berdiri, maka ditugaskan tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya sampai malam hari.” (HR. al-Hakim)
x.   Mengantar (mengiringi) jenazah muslim yang meninggal.
”Barangsiapa yang mengantar jenazah maka akan mendapatkan pahala satu qirath. Jika ia berdiri sampai jenazah itu dikubur maka ia mendapatkan pahala dua qirath.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud.” (HR. Muslim)
y.   Menziarahi kuburan muslim.
”Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan dari kuburan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Maajah, al-Hakim).

Diadaptasi dari tulisan “Adab Berinteraksi dengan Sesama Muslim”.
2.  Bergaul dengan Teman Non Muslim
a.   Berlaku adil dan baik pada teman non muslim. Allah SWT berfirman:
“Orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu keluar dari kampung-kampung kamu, Allah tidak melarang kamu berbuat kebaikan kepada mereka dan berlaku adil kepada mereka, sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berlaku adil’. (Al- Mumtahanah: 8).
b.   Tidak menjauhinya, tetapi bersikap sewajarnya
c.   Tidak mengikutinya dalam hal ibadah atau ritual sejenisnya.
d.   Tidak menghina teman non muslim dikarenakan perbedaan agama.
Umat Islam tidak boleh mengganggu dan merusak harta orang kafir, menyakiti atau melukai jasmaninya, atau merendahkan martabatnya.
e.   Boleh membantu teman non muslim yang menderita
f.   Tidak boleh memberi salam kepada teman non muslim
Apabila teman non muslim memberi salam, maka jawablah hanya dengan ucapan “Wa’alaikum’’.
3.  Bergaul dengan Tetangga
a.     Menyampaikan ucapan selamat ktika edang bergembira
b.     Menjenguk ketika sakt
c.     Berta’ziyah ketika ada keluarganya yang eninggal dunia
d.     Menolongnya jika tetangga meminta pertolongan dan meminjaminya jika ia ingin meminjam. Bahkan kalau perlu menawarinya sebelum tetangga berkata untuk meminjam
e.     Memberikan nasehat dalam berbagai urusan dunia dan akhirat
f.     Memeikan nasehat dalam berbagai urusan dunia dan akhirat
g.     Tidak mengganggu dan menyakiti, baik dengan lidah, pandangna mata, telinga maupun tangan.
h.     Ikut menjaga dan melindunginya dari kezaliman
i.      Menjaga perasaannya, tidak boleh menampakkan kegembiraan takkala tetangga bersedih
j.      Tidak membuat gaduh dengan suara audio, sekalipun suara bacaan Al-Quran
k.     Memaafkan kesalahannya, sabar menghadapi gangguannya, membalas keburukan dengna kebaikan. Jika ia di hadapi dengan cara ini, niscaya dia akan menjadi baik dan lurus akhlaknya serta merubah kebencian menjadi kecintaan.
Diadaptasi dari tulisan “Akhlak terhadap Tetangga”

Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan dengan metode yang benar serta terarah akan membuat seorang lebih mudah mendapatkan ilmu, mudah dalam memahami, mudah dalam menghafal serta akan mendapatkan kemudahan-kemudahan yang lainnya. Agar proses belajar berikut kiat-kiat yang harus di lakukan oleh seorang muslim sejati:
1.     Selalu ingat bahwa ilmu memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dalam Firman Allah:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 58:11)
      Menuntut ilmu dengan niat dan tujuan yang benar merupakan jalan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barang siapa yang menempuh suatu jalan karena bertujuan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR at-Tirmidzi, periksa shahih al jami' ash-shaghir 6174)
2.     Selalu menyadari betapa besarnya celaan yang ditujukan terhadap orang-orang yang berkata tanpa ilmu, seperti di dalam firman Allah SWT:
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. 16:116-117)
3.     Jangan terburu-buru, karena syetan merasuk ke dalam jiwa manusia bersama dengan sifat terburu-buru. Hendaknya kita cermat dan telaten di dalam segenap urusan. Terutama ketika menghukumi suatu perkara, jangan menghukumi sebelum benar-benar kita ketahui hakikat atau duduk persoalannya, sebelum kita ketahui bagaimana hukum Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ukuran kebenaran dan kesalahan adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.
4.     Jangan sampai ada rasa sombong dalam hati, sehingga menghalangi kita untuk bertanya kepada orang lain tentang sesuatu yang tidak kita ketahui. Berhati-hatilah dari bisikan setan yang mengatakan misalnya, "Kamu adalah seorang thalib ilmu atau ustadz yang mampu ini dan itu, di sisimu ada banyak kitab, karya-karya ulama, dan tulisan yang begitu banyak, maka tidak perlu kamu bertanya kepada orang lain lagi." Jika ada bisikan seperti ini, maka bacalah ta'awudz dan selalu ingat firman Allah subhanahu wata’ala,
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. 16:43)
5.     Berusaha semaksimal mungkin mencari ilmu kepada ahlinya, belajar al-Qur'an kepada qurra' (ahli baca al-Qur'an), belajar tafsir kepada mufassir (ahli tafsir), belajar hadits kepada ahli hadits, belajar fiqih kepada para fuqaha' dan seterusnya.
6.     Siapa yang tidak menguasai Ushul (pokok dan kaidah ilmu), maka tidak akan sampai pada tujuan. Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang penuntut ilmu mengetahui masalah pokok (ushul) dalam setiap bidang ilmu. Yaitu dengan memahami dan menghafalkan kaidah-kaidah pokok tersebut melalui seorang syaikh atau guru yang berkompeten di bidangnya, jangan memahaminya secara otodidak (sendirian).
7.     Jangan berpindah dari pembahasan yang lebih ringkas ke yang lainnya tanpa ada hal yang mengharuskan untuk itu.
8.     Berusaha membuat ringkasan materi atau pelajaran yang dapat diambil dari sebuah pembahasan, baik yang disampaikan para masyayikh (guru) atau ketika ada masalah penting yang terlintas pada saat kita membaca buku. Di antara caranya adalah dengan membuat catatan kaki (footnote) atau catatan akhir (endnote), atau menulisnya di dalam buku tersendiri agar lebih lengkap dan dapat juga dengan sistim kartu, dengan menuliskan judul pembahasan pada bagian atasnya.
9.     Berusaha menjaga ilmu tersebut dari waktu ke waktu, karena tanpa adanya penjagaan terhadapnya, maka ilmu tersebut akan hilang atau terlupakan.
10.   Jangan ketinggalan mempelajari kitab-kitab yang berisikan tentang metode pangambilan dalil (istidlal), cara pemahaman yang mendalam tentang alasan atau sebab dari suatu kesimpulan hukum serta menyentuh pada pokok dan rahasia permasalah.
11.   Jangan sampai mengambil pelajaran dari suatu kitab sebelum kita mengetahui makna istilah dan kalimat yang digunakan oleh penulisnya. Biasanya istilah tersebut disinggung terlebih dahulu di dalam mukaddimah atau pengantar, maka hendaklah memulai membaca kitab dari mukaddimah lebih dahulu.
12.   Jagalah hati agar jangan sampai seperti spon (busa) atau bunga karang, yang menyerap cairan apa saja yang ada, tanpa memilih dan memilah antara yang satu dengan yang lain.
13.   Bersungguh-sungguh di dalam memilih buku, jangan sembarangan membeli buku sebelum kita yakin penulisnya lurus dan terpercaya dalam ilmunya.
14.   Hendaklah pandai-pandai membagi waktu dalam belajar. Mengenai pembagian waktu belajar ini, al-Imam Ibnul Jama'ah al-Kinani berkata, "Waktu paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur (menjelang Subuh-red), waktu terbaik untuk membahas sebuah masalah adalah pagi, waktu terbaik untuk menulis adalah siang dan waktu terbaik untuk muthala'ah dan mengulang pelajaran adalah malam hari.” Kemudian beliau juga menukil ucapan al-Khathib al-Baghdadi yang mengatakan, "Sebaik-baik tempat untuk menghafal adalah di dalam kamar dan tempat-tempat yang jauh dari keramaian."
15.   Jika ada masalah atau kesulitan ketika membaca sebuah buku, maka hendaknya bertanya kepada siapa saja yang dipandang tsiqah (terpercaya) ilmu dan sikap wara'nya.
16.   Mengenai urutan kitab apa yang harus dibaca dalam masing masing disiplin ilmu, maka ini merupakan salah satu hal yang banyak diperbincangkan para ahli ilmu, mereka biasanya membedakan antara yang bersifat fardhu 'ain dan fardhu kifayah. Mereka juga mengklasifikasikan ilmu menjadi ushul (pokok) dan furu' (cabang) dan masing masing ada alatnya tersendiri.

Diadaptasi dari tulisan “Kiat  Sukses Menuntut Ilmu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar