IKLAN JASA

Home » » PEMBELAJARAN PADA ANAK SD

PEMBELAJARAN PADA ANAK SD

PEMBELAJARAN PADA ANAK SD

Pembelajaran Aktif Pada Anak SD
Keberhasilan pencapaian kompetensi suatu mata pelajaran bergantung kepada beberapa aspek. Salah satu aspek yang sangat mempengaruhi kebehasilan pencapaian kompetensi adalah cara guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kecenderungan yang terjadi pada proses pembelajaran di Indonesia adalah kegiatan belajar masih berpusat pada guru, yaitu guru lebih banyak bercerita atau berceramah. Siswa tidak banyak aktif terlibat dalam proses pembelajaran, guru tidak/jarang menggunakan media pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi kering dan kurang bermakna. Oleh karena itu paradigma lama di mana orientasi belajar lebih berpusat pada guru harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan orientasi belajar lebih berpusat pada siswa atau pembelajaran aktif.
Pembelajaran aktif (active learning) adalah istilah umum yang menggambarkan suatu pendekatan pembelajaran yang secara luas diterima di seluruh dunia sebagai praktik terbaik (best practice). Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa cara belajar terbaik bagi anak-anak adalah dengan melakukan, dengan menggunakan semua inderanya, dan dengan mengeksplorasi lingkungannya seperti orang, tempat, sesuatu hal, kejadian atau peristiwa yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari anak. Mereka harus belajar dari pengalaman langsung dan konkrit (misalnya mengukur luas, menanam bunga, membuat denah, membuat karangan, dan sebagainya) serta berbagai bentuk pengalaman lainnya (misalnya membaca buku, melihat berita di TV, mengunjungi museum). Keterlibatan aktif dengan benda dan gagasan ini mendorong anak aktif berfikir untuk mendapatkan pengetahuan baru dan memadukannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Pembelajaran yang aktif, merupakan proses pembelajaran di mana seorang guru harus dapat menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan juga mengemukakan gagasannya. Keaktifan siswa ini sangat penting untuk membentuk generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan juga orang lain. Sedangkan proses pembelajaran yang menyenangkan, berkaitan erat dengan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memusatkan perhatianya secara penuh pada belajarnya. Hal ini membutuhkan kreativitas guru untuk dapat menghidupkan suasana belajar mengajar sehingga menjadi tidak membosankan bagi para siswanya. “Keadaan yang aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai oleh para siswa, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan yang harus dicapai”.

Jika pembelajaran hanya dengan membaca (reading), maka berapa banyak kecenderungan untuk mengingat (How much we tend to remember), yaitu hanya 10% dari apa yang dibaca (10% of what we read). Sedangkan pada derajat keterlibatan siswa (Our level of involvement) termasuk dalam kelompok pasif (passive), yaitu dapat diterima secara lisan saja (verbal receiving). Pada pembelajaran dengan melakukan sebuah aksi presentasi (doing a dramatic presentation), simulasi pengalaman nyata (simulating a real experience), dan melakukan sesuatu kegiatan yang nyata atau dengan benda-benda/alat sesungguhnya (doing the real thing) akan memberikan kecenderungan mengingat sebesar 90% apa yang dikatakan dan dilakukan. Sedangkan derajat keterlibatan siswa tergolong aktif. Dengan demikian, berarti belajar dengan melakukan (doing) dapat diingat dan diulang kembali dengan kecenderungan berkisar 90%.
Pembelajaran aktif merupakan sesuatu pembelajaran dimana siswa dimungkinkan untuk lebih banyak melakukan daripada hanya mendengar saja. Hal ini sesuai dengan konsep pembelajaran yang sudah digambarkan oleh Edgar Dale, sehingga pembelajaran aktif merupakan sesuatu cara pembelajaran yang tidak dapat ditunda lagi untuk dapat diimplementasikan pada anak didik kita, terutama pada pendidikan dasar. Pembelajaran aktif juga dapat mengangkat tingkat pembelajaran dari ketrampilan berfikir tingkat rendah (pengamatan, menghafal, mengingat informasi, dan mengetahui) hingga ketrampilan berfikir tingkat tinggi (memecahkan masalah, analisis, sisntesis, dan sebagainya). Di Indonesia pembelajaran aktif ini diistilahkan dengan PAKEM, yaitu pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Pendekatan Pakem ini diharapkan diimplementasikan untuk membelajarkan anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD).

Dalam implementasi PAKEM ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Memahami sifat anak. Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan atau berimajinasi. Maka kegiatan pembelajaran hendaknya menjadi lahan bagi berkembangnya kedua sifat tersebut.
2. Mengenal anak secara perorangan. Anak berasal dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan individu harus diperhatikan, anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya).
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar. Siswa secara alami senang bermain bersama-sama dalam kelompok atau bersama teman-temannya. Perilaku ini dapat dimanfaatkan guru dalam mengorganisir kelas, sehingga memudahkan siswa untuk berinteraksi atau bertukar pikiran.
4. Mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif serta mampu memecahkan masalah. Kedua jenis pemikiran tersebut sebenarnya sudah ada sejak lahir, guru diharapkan dapat mengembangkannya. Kritis untuk menganalisis masalah, dan kreatif untuk melahirkan pemecahan masalah.
5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. Ruangan yang menarik sangat penting dalam Pakem. Media dan alat bantu mengajar perlu ditata dalam kel;as sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa untuk memanfaatkannya. Demikian juga hasil karya siswa perlu dipajang di kelas atau di luar kelas dalam rangka untuk memberikan motivasi siswa bekerja lebih baik lagi, dan memberikan inspirasi bagi teman yang lain.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Lingkungan (fisik, sosial, budaya), yang ada di sekitar sekolah atau rumah dapat dijadikan sumber belajar yang menarik, karena berkaitan dan dekat dengan kehidupan anak sehari-hari.
7. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. Dalam Pakem, aktif mental lebih diinginkan muncul daripada aktif fisik. Aktif mental ditandai dengan kegiatan sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, mengemukakan pendapat, dan sebagainya.
8. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan aktivitas. Umpan balik lebih ditujukan untuk meningkatkan interaksi siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan guru. Namun umpan balik diharapkan lebih mengungkapkan kekuatan/kelebihan daripada kelemahan siswa.
Untuk pengembangan dan pencapaian pembelajaran model Pakem ini, salah satunya kini digulirkan Program Desentralisasi Pendidikan Dasar (Desentralized Basic Education/DBE). Program Desentralisasi Pendidikan Dasar ialah program kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Amerika Serikat. Program ini merupakan payung kerjasama antara Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) dan USAID (The United States Agency for International Development).
Tujuan dari program ini ialah peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia melalui tiga komponen kegiatan yang saling berintegrasi, yaitu:
1) desentralisasi manajemen dan tata pelayanan pendidikan yang lebih efektif (DBE1),
2) peningkatan kualitas belajar mengajar (DBE2), serta
3) peningkatan relevansi pendidikan menengah dan pendidikan luar sekolah melalui kecakapan hidup dan keterampilan vokasional (DBE3).
Area yang dicakup Program Desentralisasi Pendidikan Dasar USAID/Indonesia (Program DBE) ialah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Program ini berlangsung mulai tahun 2005 sampai 2010 dan diharapkan akan membantu meningkatkan pendidikan untuk lebih dari 2.400 sekolah dan lebih dari 250 ribu siswa di 100 kabupaten/kota.

Suasana Pembelajaran Aktif di Kelas
Ketika desentralisasi pendidikan sedang digulirkan dan paradigma baru pendidikan kita dikembangkan, tidak ada jalan lain kecuali kita harus secara terus-menerus memberdayakan guru dengan mengembangkan sensitivitas dan kreativitasnya. Pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan (implementasi Pakem di Sekolah Dasar), akan dapat lebih mudah dicapai jika mendapat dukungan berbagai pihak. Dukungan berbagai pihak, berasal dari kepala sekolah, guru, orang tua murid dan pengawas sekolah, yang dalam hal ini disebut sebagai tim sekolah.
Dalam pelatihan pembelajaran aktif yang dilakukan DBE2 melibatkan semua tim sekolah tersebut dalam pelatihan Pakem yang diakhiri sampai pendampingan di kelas pada semua guru.
Berdasarkan prinsip kepemimpinan pembelajaran, kepala sekolah perlu mengetahui dan mampu mengimplementasikan Pakem agar dapat memberikan dukungan, pengarahan, dan umpan balik yang bermanfaat pada para gurunya. Dengan kepala sekolah juga mengikuti pelatihan, diharapkan akan memberikan masukan yang tidak dilakukan dengan cara mengancam/mengintimidasi tetapi dengan memotivasi. Selanjutnya kepala sekolah akan dapat mengarahkan tim selolah untuk melakukan analisis mengenai praktik pengajaran yang ada di sekolahnya dan mengembangkan serta mengimplementasikan rencana tindak lanjut (action plan) untuk meningkatkan pembelajaran di masa yang akan datang.
Sedangkan pengawas sekolah dan komite sekolah, akan mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai Pakem serta sumberdaya yang diperlukan untuk mengimplementasikannya. Untuk pengawas sekolah keikutsertaan dalam pelatihan dimaksudkan untuk memberikan dukungan dalam hal alokasi sumber daya keuangan dan bahan yang diperlukan, dan kebijakan. Untuk para orang tua selain memberikan dukungan materiil dan imateriil juga akan dapat terjalin komunikasi yang efektif dengan sekolah mengenai implementasi Pakem.
Pemilihan Metode Mengajar Yang Efektif Untuk Sekolah Dasar
Hubungan Pembelajaran dengan Metode Mengajar
1.      Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar diantaranya adalah faktor tujuan pembelajaran, karakteristik materi pelajaran, faktor siswa, faktor alokasi waktu, dan fasilitas penunjang.
2.      Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan yang banyak melibatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru. Untuk mencapai tujuan pengajaran perlu adanya metode mengajar.
3.      Pemilihan metode mengajar harus mempertimbangkan pengembangan kemampuan siswa yang lebih kreatif inovatif dan dikondisikan pada pembelajaran yang bersifat problematis. Pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri dan belajar secara kelompok.
4.      Metode mengajar memiliki fungsi sentral dalam pembelajaran diantaranya yaitu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5.      Tujuan pembelajaran yang harus dikembangkan berdasarkan ranah tujuan kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah tujuan tersebut akan memungkinkan dicapai pada tujuan yang bersifat umum.
6.      Setiap pemilihan metode mengajar harus didasarkan pada hasil kajian antara perilaku yang diharapkan dengan cara yang akan ditempuh dalam pembe-lajaran.
Hubungan Pengalaman Belajar dengan Metode Mengajar
1.      Pengalaman belajar (learning experience) merupakan suatu proses atau hasil kegiatan belajar yang dilakukan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.      Penggunaan metode ceramah esensinya menyajikan bahan pelajaran secara lisan oleh guru, yang akan membentuk pengalaman belajar dalam kemampuan menyimak, dan pemahaman terhadap informasi dari materi pelajaran yang disajikan.
3.      Penggunaan metode diskusi esensinya menyajikan bahan pelajaran melalui sesuatu problem yang harus diselesaikan secara bersama dibimbing oleh guru, yang akan membentuk pengalaman belajar siswa dalam menjawab persoalan serta belajar secara kerja sama dan membuat suatu keputusan.
4.      Penggunaan metode simulasi esensinya menyajikan bahan pelajaran melalui objek atau kegiatan pembelajaran yang bukan sebenarnya. Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi kemampuan kerja sama, komunikatif, dan mengiterpretasikan sesuatu kejadian.
5.      Penggunaan metode demonstrasi esensinya menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung pada objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan sesuatu proses. Pengalaman belajar yang diperoleh melalui metode ini meliputi kemampuan bekerja dan berpikir secara sistematis, dan mengamati objek yang sebenarnya.
6.      Penggunaan metode eksperimen esensinya menyajikan bahan pelajaran melalui percobaan serta mengamati sesuatu proses. Pengalaman belajar yang akan diperoleh adalah menguji sesuatu, menguji hipotesis, menemukan hasil percobaan dan mengembangkan rasa ingin tahu siswa. Dalam membentuk pengalaman belajar siswa cenderung menggunakan metode-metode yang memiliki kadar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan keterampilan proses, serta metode mengajar digunakan secara multi metode dan bervariasi.

Kondisi-kondisi dalam Pencapaian Tujuan Belajar
Beberapa butir penting yang telah Anda pahami dari kegiatan belajar tiga yaitu:
1.      Kondisi-kondisi yang perlu diidentifikasi dalam pencapaian tujuan belajar terdiri atas kondisi internal dan kondisi eksternal. Kondisi internal yaitu kondisi-kondisi yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan kondisi eksternal yaitu kondisi-kondisi yang timbul dari luar diri siswa.
2.      Kondisi internal yang mempengaruhi pencapaian tujuan belajar, diantaranya:
1.      Sikap siswa terhadap proses belajar yang dilakukannya
2.      Motivasi belajar, terutama motivasi intrinsik
3.      Konsentrasi selama melakukan kegiatan belajar
4.      Kadar inteligensi yang dimiliki siswa
5.      Rasa percaya diri untuk belajar
3.      Kondisi eksternal yang mempengaruhi pencapai tujuan belajar, diantaranya:
1.      Kualitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
2.      Sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran.
Lingkungan sosial siswa di sekolah menempati  posisi  penting  dalam  usaha  peningkatan  kualitas  lulusan. Untuk  itu  guru  dituntut  harus  mampu  merancang  dan  melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat. Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bekal ini diharapkan  diperoleh  melalui  pengalaman  belajar  di  sekolah.  Oleh  sebab itu  pengalaman  belajar  di  sekolah  sedapat  mungkin  memberikan  bekal siswa  dalam  mencapai  kecakapan  untuk  berkarya.  Kecakapan  ini  disebut dengan  kecakapan  hidup  yang  cakupannya  lebih  luas  disbanding  hanya sekedar ketrampilan.
Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Sebagai  suatu  proses,  pembelajaran  terpadu  memiliki  karakteristik sebagai berikut:
1. Pembelajaran berpusat pada anak
Pembelajaran   terpadu   dikatakan   sebagai   pembelajaran   yang berpusat   pada   anak,   siswa   dapat   aktif   mencari,   menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.
2.      Menekankan pembentukan, pemahaman dan kebermaknaan
Pembelajaran  terpadu  mengkaji  suatu  fenomena  dari  berbagai macam  aspek  yang  membentuk  semacam  jalinan  antar  skemata  yang dimiliki  siswa.  Hal  ini  diharapkan  akan  berakibat  pada  kemampuan siswa untuk dapat  menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.
3.  Belajar melalui pengalaman langsung
Pada  pembelajaran  terpadu  SD X diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari   dan   memungkinkan   siswa   belajar   dengan   melakukan perbuatan  kegiatan  langsung.  Sehingga  siswa  akan  memahami  hasil belajarnya  sesuai  dengan  fakta  dan  peristiwa  yang    mereka  alami bukan sekedar informasi dari gurunya.
4.    lebih memperhatikan proses dari pada hasil semata.
Pembelajaran terpadu dikembangkan pendekatan discovery inquiry (penemuan  terbimbing)  yang  melibatkan  siswa  secara  aktif  dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi.
5.    Sarat dengan muatan keterkaitan
Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian  suatu  gejala  atau  peritiwa  dari  beberapa  mata  pelajaran sekaligus  sehingga  memungkinkan  siswa  untuk  memahami  suatu fenomena dari segala sisi.
Tujuan Pembelajaran terpadu
Pembelajaran   terpadu   dikembangkan   selain   untuk   mencapai   tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat:
1. meningkatkan   pemahaman   konsep   yang   dipelajarinya   secara   lebih bermakna.
2. mengembangkan ketrampilan menemukan, mengolah dan memanfaatkan informasi.
3.  menumbuhkembangkan sifat positif, kebiasaan baik dan nilai nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan
4. menumbuhkembangkan ketrampilan sosial  seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain.
5.        meningkatkan gairah dalam belajar.
Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. “Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal,” papar almamater Universitas Indonesia dalam OKEZONE, Rabu(20/2/2008).
Menurutnya, pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.
“Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini atau begitu,” ucap wanita ramah ini.
Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri.
“Ajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya,” papar wanita yang akrab disapa Rose.
Masih menurutnya, cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. Artinya ketika akan mengajarkan anak mengenai pendidikan seks, lihat sasaran yang dituju. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kristis dan ingin tahu tentang segala hal.




Daftar rujukan
-                   http://episentrum.com/artikel/mengajarkan-pendidikan-seks-pada-anak/#more-156

0 comments:

Post a Comment