IKLAN JASA

Home » » Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan dan Mengembangkan Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah (Studi Pada Mata Pelajaran Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan Di Kelas X APk SMK Muhammadiyah 2 Malang).

Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan dan Mengembangkan Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah (Studi Pada Mata Pelajaran Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan Di Kelas X APk SMK Muhammadiyah 2 Malang).


ABSTRAK

Trisnawati, Vivi Artim, 2010. Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Untuk Meningkatkan dan Mengembangkan Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah (Studi Pada Mata Pelajaran Memberikan Pelayanan Kepada Pelanggan Di Kelas X APk SMK Muhammadiyah 2 Malang). Skripsi Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed, M.Si (2) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si




Kata kunci : model pembelajaran two stay two stray, kemampuan siswa memecahkan masalah, kendala, respon
Berdasarkan survei awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan, dapat disimpulkan bahwa masalah  yang terjadi di kelas X APk SMK Muhammadiyah 2 Malang yaitu metode ceramah dan metode diskusi dilakukan selama pembelajaran mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan. Hal ini kurang membuat seluruh siswa berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat atau pemikiran yang kritis serta kurang adanya kerjasama yang baik dalam berdiskusi sehingga siswa kurang meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model pembelajaran two stay two stray.
Jenis penelitian tersebut adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus yakni siklus I dan siklus II. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa model pembelajaran two stay two stray dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan, kendala yang dihadapi selama pembelajaran two stay two stray terlaksana, dan respon guru serta siswa mengenai model pembelajaran two stay two stray. Data penelitian diambil dari hasil pre-test dan pos-test siklus I dan II, lembar observasi kegiatan peneliti selama mengajar, catatan lapangan mengenai pelaksanaan pembelajaran two stay two stray, dan lembar observasi kemampuan siswa.
Berdasarkan penelitian tindakan kelas pada siklus I diperoleh hasil bahwa 13 siswa yang kurang berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat dan berpikir kritis dengan baik selama pembelajaran two stay two stray. Hasil perolehan nilai pre-test pada siklus I masih terdapat 15 siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 70. Sedangkan perolehan post-test pada siklus I tidak ada siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 berarti semua siswa telah tuntas belajar. Sedangkan pada siklus II diperoleh seluruh siswa telah berpartisipasi dalam mengemukakan  pendapat dan berpikir kritis dengan baik. Pada pre-test maupun post-test pada siklus II tidak adanya siswa yang mendapatkan nilai kurang 70 berarti siswa sudah tuntas belajar. Hasil prosentase rata-rata pre-test siklus I adalah 73,2% dan post-test memperoleh 80,5%. Sedangkan hasil pre-test adalah 85% dan post-test memperoleh 91,2% pada siklus II. Ini berarti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti dan dicatat di lembar hasil observasi kemampuan siswa pada siklus I, keberhasilan untuk keterlaksanaan proses pembelajaran two stay two stray pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan telah mencapai 80,7%. Sedangkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti dan dicatat di lembar hasil observasi kemampuan siswa pada siklus II, keberhasilan untuk keterlaksanaan proses pembelajaran two stay two stray pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan telah mencapai 91,8%.  Berdasarkan Arikunto (2003:235)*menyatakan bahwa batas keberhasilan pembelajaran PTK yaitu sebesar 85%. Hal ini berarti keterlaksanaan proses pembelajaran two stay two stray pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan dinyatakan berhasil karena telah melampaui batas keberhasilan pembelajaran PTK sebesar 85%. Kendala yang dihadapi peneliti yakni keterbatasan waktu yang diberikan oleh sekolah, kebingungan siswa karena model pembelajaran two stay two stray belum pernah dilakukan di kelas dan beberapa siswa yang agak kurang aktif selama pembelajaran berlangsung. Respon guru dan siswa tertarik dengan model pembelajaran two stay two stray karena dapat membuat siswa lebih aktif dan seluruh siswa berpartisipasi dalam berdiskusi maupun mencari informasi dari kelompok lain sehingga siswa dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.
Saran yang dapat diberikan kepada Guru mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan yakni model pembelajaran two stay two stray sebagai alternatif model pembelajaran dapat diterapkan di kelas karena dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa. Siswa hendaknya berpartisipasi dalam mengemukakan pendapatnya selama proses pembelajaran berlangsung agar memahami dengan benar langkah-langkah pembelajaran sehingga siswa dapat menguasai materi yang diberikan. Pihak sekolah dapat menjadikan model pembelajaran two stay two stray diterapkan pada seluruh mata pelajaran di kelas. Dan pihak sekolah dapat memberikan kekurangan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian. Kepada  pihak kampus, diharapkan menyediakan referensi mengenai model pembelajaran two stay two stray agar peneliti mampu menerapkan langkah-langkah model pembelajaran two stay two stray dengan baik. Dan dapat menjadikan model pembelajaran two stay two stray diterapkan pada seluruh mata kuliah di kelas. Peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis dengan mata pelajaran yang berbeda sebaiknya bisa memodifikasi model pembelajaran two stay two stray atau bahkan mengkolaborasi dengan model pembelajaran yang lain agar pembelajaran tersebut dapat membuat siswa lebih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dalam berpikir kritis maupun lebih memiliki keaktifan selama pembelajaran berlangsung.

0 comments:

Post a Comment